8 Jan 2008

Kehilangan Tangan

Pilu rasanya ketika mendapati diriku mengetik ini dengan 1 tangan. Kepergian papi juga mengharuskanku merelakan tangan kiriku ikut terkubur. kecelakaan lalu lintas yang menewaskan papiku adalah kenangan terburuk sepanjang hidupku. Saat itu aku melihat darah mengalir di sekujur tubuhnya. Sekali lagi aku tak berdaya untuk menyelamatkan nyawa papi. ketika peristiwa mengenaskan itu terjadi umurku baru akan memasuki tahun ke-6. Aku hanya bisa berteriak "Tolong Tuhan, selamatkan papiku" 
melihat papi terbaring kaku, aku merasa begitu bersalah. Apakah aku betul-betul anak sial? 
Apakah aku harus percaya kalo Tuhan menciptakan manusia sial?
apakah aku harus membenarkan kata-kata koko kalo aku ini membawa petaka?
sulit bagi seorang bocah ingusan sepertiku saat itu memahami semua misteri hidup yang terjadi dalam kehidupanku.
Karena melahirkanku ke dunia, mami meninggal dunia
karena mengantarku ke sekolah, papi meninggal dunia
mengapa mereka?
mengapa bukan aku saja?
Tuhan mengambil satu tanganku, lalu kubertanya, mengapa bukan nyawaku saja yang Tuhan ambil?
setiap aku melihat diriku tanpa tangan kiri, traumatik itu menyiksaku. Rasa sakit itu menjalar ke seluruh Tubuhku.
Hatiku terasa sakit. Sangat Sakit. 
walau luka di tanganku telah mengering tapi Luka dalam benakku terasa semakin memburuk bagai kanker ganas yang siap mencabut nyawaku.
maafkan aku papi

maafkan aku mami
maafkan aku koko



Tidak ada komentar:

Posting Komentar