Hari pertama aku keluar dari Rumah sakit, kakak memintaku untuk tidak balik ke panti asuhan dan ikut tinggal bersama temannya yang ngontrak rumah di daerah jakarta selatan. Alasannya agar kakak nunu bisa dengan mudah mengontrolku. Aku tak menjawab apa-apa saat tawaran itu ditujukan padaku. aku hanya ikut bersama mereka yang peduli terhadapku. aku sangat bingung dengan keadaanku yang sendiri, sakit dan cacat. aku merasa tak berguna dan selalu menyusahkan orang lain. tapi aku sangat menghargai jasa-jasa kakak nunu yang selama ini mengurusku. aku tak mungkin ikut kakak nunu ke makassar tempatnya saat itu berdomisili. aku masih begitu berat meninggalkan jakarta tempat sejuta kenangan bersama ayah dan koko bersemayam.
aku tak tahu darimana kakak tahu tentang harapanku yang semakin hari semakin pupus karena kondisi fisikku yang mau tak mau ikut mempengaruhi psikisku. di suatu pagi yang begitu sunyi meneteskan air mataku. tiba-tiba kakak datang membawa secarik kertas putih. di kertas itu tertulis sebuah judul Kisah Sukses Tanpa Tangan dan Kaki. setelah membacanya, air mataku menetes dan hatiku memanas. ingin rasanya seketika itu melompat lebih tinggi dan menunjukkan kepada dunia bahwa aku adalah manusia sama seperti yang lain dan aku adalah manusia luar biasa yang beda dari yang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar