10 Des 2006

Nyaris Mati

Setelah uang yang kubawa habis, 
aku mulai menahan lapar
terik matahari di siang hari dan dingin dimalam hari yang kulalui
setiap hari selama berbulan-bulan di jalan
membuat tubuhku yang dulu bersih,
kini tak ada bedanya dengan para gelandangan itu
aku hidup bersama mereka selama beberapa bulan ini
aku berinteraksi dan bermain bersama anjal dan gepeng di tanah metropolitan yang tandus ini

Tapi suatu malam
dalam keadaan lapar aku tak bisa tidur
pagi harinya aku merasa panas
aku demam, tapi tak ada obat yang harus kuminum
hanya makanan sisa yang bisa aku makan
itupun kalau ada orang yang berbaik hati menyisakan sedikit makanannya untuk dibuang.
papi dan koko selalu mengajariku untuk tidak meminta
aku memang hidup di jalan
tapi aku tak mau membuat koko dan papi marah 
karena aku meminta-minta

badanku terasa semakin panas
sudah dua hari leherku sakit dan lidahku sangat pahit
ku rebahkan tubuh kurusku di atas kardus yang kubeli dari abang pemulung
aku menyilangkan tangan di depan dada menahan rasa sakit dan ngilu di sekujur tubuhku
rasanya teramat menyiksa
aku nyaris mati
pakaianku yang kotor dan perutku yang kosong membuatku merasa seperti sampah
aku hanya berharap Tuhan menyayangiku

lelap rasanya aku tertidur di atas kardus di depan sebuah emperan Toko
saat terbangun rasanya aku bermimpi
dunia nyata membawaku ke sebuah tempat dimana aku terbaring di atas sebuah kasur
kulihat seorang perempuan dewasa di sampingku
ternyata aku berada di sebuah panti Asuhan
perempuan itu menutup kepalanya dengan kerudung
wajahnya nampak bersinar
dia kelihatan baik dan penyayang
orang-orang menyebutnya Bunda
ternyata, saat aku terlelap dalam kesakitan semalam
seorang laki-laki muda pengurus panti ini, 
yaitu kerabat pemilik toko dimana aku terbaring di emperan toko itu membawaku ke sini. 
karena mendapatiku menggigil kedinginan dengan badan yang panas
aku kini percaya kalau Tuhan menyayangiku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar