8 Jul 2007

Bertemu Pastur

aku tak setegar batu karang oleh hempasan badai di laut. 
Aku rapuh karena hujan caci maki dan hinaan. 
Mereka meneriakiku "Manusia Pembawa Sial" 
mereka menghinaku karena aku cacat dan mereka kadang memperlakukanku tak adil hanya karena aku kini hidup sebatangkara. 
walaupun aku tinggal bersama pamanku, aku tetap saja menerima perlakuan itu. 
Aku sudah berusaha agar bisa bertahan untuk tinggal bersama mereka. 
Tapi aku tetaplah seorang anak yang labil dan butuh kasih sayang bukan siksaan. 


mungkin di mata keluarga pamanku, aku hanya akan menjadi sampah dengan kondisi seperti ini. 
Dini hari sebelum mereka bangun, aku pergi dari rumah meninggalkan tempat sejuta kenanganku bersama papi dan koko. 
Aku menangis saat harus meninggalkan rumahku yang kini hanya ada aku dan orang lain di sana. Tapi keinginanku begitu besar untuk pergi dari rumah yang seakan spontan berubah menjadi penjara buatku.


Aku tak tahu akan kemana. yang aku tahu bahwa aku sendiri tanpa ada yang bisa melindungiku kecuali Tuhan. Aku membawa semua tabunganku dan kartu ATM dan buku tabungan koko tapi aku masih bingung bagaimana menggunakannya. 
Aku hanya berdoa Semoga koko nggak marah padaku. Pagi itu aku terus berjalan di atas tanah metropolitan. 
Begitu lama aku berjalan dan begitu jauh jalan yang telah aku lalui. 
Aku melihat gereja dan aku singgah untuk meringankan sedikit kelelahanku. Di tempat itu aku bertemu dengan seorang pastur dan membagiku makanannya untuk sarapan. mungkin dia kasihan padaku yang hanya memiliki satu tangan.
Dengan tangan kananku aku menyantap, makanan yang diberikan bapak itu kepadaku dengan penuh doa semoga Tuhan memberinya rezeki yang berlimpah kepadanya. 


banyak pertanyaan yang diajukan oleh pria dewasa yang memberiku makanan itu. kujawab semuanya dengan bahasaku dan pemahamanku tentang pertanyaan itu. 
lumayan lama berbicara padanya ternyata dia adalah seorang pastur di gereja ini. 
pastur itu mengajakku untuk tinggal dirumahnya, tapi aku menolak dengan alasan yang juga sama sekali tak kumengerti. aku tak tahu mengapa hari itu aku menolak tawaran pastur itu, padahal aku sendiri tak tahu akan kemana. 
aku hanya menggeleng dan berlari meninggalkan gereja tua yang telah menjadi saksi seorang pastur membagiku makanannya.
tapi aku teringat kalimat pastur barusan sebelum aku meninggalkannya. 
beliau bilang 
"Selagi kamu menjadi anak yang baik, tidak bandel, tidak suka menyakiti orang lain, jujur dan suka menolong orang lain. maka kamu akan menjadi anak yang paling dikasihi Tuhan. dan Tuhan akan mengirimkan orang-orang yang menyayangimu dengan tulus dan selalu menolongmu saat kamu kesusahan."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar