Awan kelabu menghias dan lagit mendung saat Tuhan menakdirkanku terlahir ke muka bumi ini. Pada tanggal 1 Januari 1998 adalah hari kelahiranku sekaligus hari kematian Mamiku. Dialah seorang wanita cantik dan luar biasa yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Aku hanya dapat melihat mami lewat album foto yang telah kusam oleh hiasan debu. Aku hanya bisa mengenal dan mendengar kisah tentang mami lewat papi. Aku hanya bisa berbicara pada gambar bisu di sebuah bingkai untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasihku pada mami karena mami telah mengandungku selama sembilan bulan, menjagaku, bahkan mempertaruhkan nyawanya untuk kelahiranku ke muka bumi ini.
saat mami melahirkanku, mami belum sempat melihatku, mami belum sempat memelukku dan mami belum sempat mengecupku lalu Tuhan memutuskan untuk mengambilnya. Mamiku meninggal dunia saat menjalani proses persalinan. Aku terlahir ke dunia tepat saat semua orang di sekitarku menitihkan air mata duka atas kematian mami. Entah saat itu siapa yang bahagia dengan kelahiranku. Mungkin tak ada. Aku merasakan hal itu dengan sikap koko Jimmy yang seakan murka denganku. Koko Jimmy adalah kakak laki-lakiku yang usianya terpaut 12 tahun dariku. Koko Jimmy menjadikanku tersangka utama atas kematian mami.
Aku sering bertanya, apakah aku salah karena telah terlahir ke muka bumi ini? jika salah, kemana aku bisa menebus kesalahan ini? aku juga tak mau kehilangan mami. Tangisan pertamaku di dunia ini adalah tangisan duka karena malaikat maut pun ikut menyambutku walau kedatangannya bukan untukku.
saat telah bisa menangkap sinyal kebencian koko padaku, aku selalu berusaha berbuat baik kepada koko. Aku ingin mengatakan pada koko kalo aku juga tak mau mami meninggal dunia. aku ingin katakan pada koko kalau aku tak tahu apa-apa saat itu. kalau hari itu, aku tak bisa memilih. aku akan memilih untuk menggantikan mami. biar aku saja yang mati. Tapi tak pernah bisa ku ungkapan jeritan ini pada koko. dia tak pernah mau duduk di dekatku apalagi memangkuku layaknya seorang kakak kepada adiknya. hanya tatapan dan sikap dingin koko yang setiap harinya kuterima. Tapi di setiap goresan pena yang aku torehkan aku selalu mengatakan pada mereka kalau aku sayang koko.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar